x

UPJA: Bukan Sekadar Penyewa Traktor, Tapi Garda Depan Swasembada Pangan

waktu baca 3 menit
Kamis, 23 Jul 2026 11:54 11 Wawan Kusmiran

UPJA: Bukan Sekadar Penyewa Traktor, Tapi Garda Depan Swasembada Pangan
Oleh: Asep, Pembina UPJA TBAS Desa Cibarengkok_

Pada dasarnya, kunci peningkatan kualitas dan kuantitas pertanian di era modern ada di tiga tangan: tangan petani, tangan kelompok tani, dan tangan pemerintah sebagai pemangku arah kebijakan. Ketiganya tidak bisa berjalan sendiri-sendiri.

Apalagi peran petani hari ini tidak semudah yang dibayangkan. Bebannya berat. Di pundak merekalah amanah besar keberhasilan swasembada pangan Indonesia diletakkan. Mereka harus menanam, merawat, panen, sekaligus berhadapan dengan harga pupuk, cuaca, dan alat yang sering rusak di tengah musim.

Di titik inilah peran kelembagaan pertanian di tingkat desa menjadi sangat penting. Salah satunya Kelompok Usaha Pelayanan Jasa Alat Produksi Pertanian, UPJA TBAS, di Desa Cibarengkok, Kecamatan Bojongpicung, Kabupaten Cianjur.

Selama ini mungkin UPJA hanya dikenal sebagai tempat menyewa traktor, combine, atau jasa perbengkelan untuk memperbaiki alat pertanian milik petani. Tapi perannya jauh lebih dari itu.

Sesuai amanah Peraturan Menteri Pertanian, UPJA hadir sebagai lembaga pelayanan. Tugasnya memastikan petani tidak terhambat karena alat. Saat musim tanam tiba dan traktor mogok, siapa yang turun? Saat butuh alat tanam cepat karena curah hujan tidak menentu, siapa yang menyediakan? Jawabannya: UPJA.

Kami di UPJA TBAS berusaha menjalankan amanah itu. Bukan hanya menyewakan alat. Kami juga mendampingi, memperbaiki, dan memastikan alat siap pakai agar petani tidak kehilangan momentum tanam. Karena keterlambatan satu minggu saja bisa berarti gagal panen bagi petani.

Namun untuk bisa lebih maksimal, UPJA tidak bisa dibiarkan jalan sendiri. Sudah sewajarnya UPJA diperhatikan serius oleh pemerintah. Bukan hanya diberi bantuan alat, lalu selesai.

UPJA harus didorong menjadi pusat inovasi mesin pertanian di tingkat desa. Bayangkan jika setiap UPJA di desa punya kemampuan untuk memodifikasi alat sesuai kebutuhan lokal, merawat secara mandiri, bahkan memproduksi komponen sederhana.

Lebih dari itu, UPJA juga bisa menjadi penyerap tenaga kerja lokal. Anak-anak muda desa yang paham mesin bisa diberdayakan sebagai operator, mekanik, dan teknisi. Pertanian jadi lebih modern, dan pemuda tidak harus merantau untuk mencari kerja.

Swasembada pangan tidak akan tercapai hanya dengan slogan. Ia butuh kerja kolektif. Petani bekerja di sawah, pemerintah membuat kebijakan dan menyediakan dukungan, dan UPJA memastikan roda pertanian di lapangan terus berputar.

Jika UPJA dikuatkan, maka artinya kita menguatkan ujung tombak pertanian. Karena di desa lah perang pangan sesungguhnya terjadi. Dan di sanalah UPJA seperti TBAS harus berdiri sebagai solusi, bukan sekadar penyewa alat.

Sudah saatnya pemerintah melirik UPJA sebagai mitra strategis, bukan pelengkap. Karena masa depan pertanian Indonesia, salah satunya, ada di bengkel-bengkel kecil dan gudang alat di desa.

_Cianjur, 23 Juli 2026_

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA
x