x

PENGENALAN KERJA BAGI SISWA SMK, MANFAAT ATAU BEBAN?

waktu baca 3 menit
Jumat, 7 Agu 2026 18:25 2 Wawan Kusmiran

Oleh: Asep Saepurochman
Praktisi Pendidikan

Anak SMK itu dididik bukan cuma untuk lulus, tapi untuk siap kerja. Maka lahirlah program “pengenalan kerja” atau praktik kerja lapangan. Tujuannya mulia. Tapi dalam praktiknya, sering muncul pertanyaan: ini benar-benar manfaat, atau malah jadi beban baru bagi siswa?

Pengenalan kerja adalah kegiatan magang, PKL, atau prakerin di dunia industri/dunia kerja. Siswa SMK dilepas sementara dari bangku sekolah untuk merasakan langsung suasana kerja sesuai jurusannya.

Ada yang ke bengkel, pabrik, hotel, kantor, sampai UMKM. Durasi bervariasi, 3-6 bulan. Harapannya: siswa pulang bawa skill, bukan cuma ijazah.

Melihat latar belakangnya, program ini bukan asal-asalan. Ada payung hukum yang jelas:
UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas, Pasal 15: SMK adalah pendidikan vokasi yang menyiapkan peserta didik memasuki lapangan kerja.
PP No. 57 Tahun 2021 tentang Standar Nasional Pendidikan mengatur tentang pembelajaran berbasis kerja. Dan peraturan Mendikbudristek No. 12 Tahun 2024 tentang Kurikulum Merdeka yang mewajibkan Projek Penguatan dan magang sebagai bagian pembelajaran.

Jadi secara hukum, negara memang mengamanatkan SMK harus link and match dengan industri.

Kalau dijalankan benar, manfaatnya besar:
1. Skill nyata: Siswa belajar mesin, SOP, dan etos kerja yang tidak ada di buku.
2. Jaringan: Banyak siswa yang langsung direkrut tempat magangnya karena kinerjanya bagus.
3. Mental kerja: Siswa jadi tahu disiplin, tanggung jawab, dan komunikasi di dunia kerja.
4. Mengurangi pengangguran: Lulusan SMK tidak kaget saat lulus, karena sudah “dipanaskan” di lapangan.

Sayangnya, di lapangan sering melenceng:
1. Jadi tenaga gratis: Siswa hanya disuruh fotokopi, angkat-angkat, bukan belajar sesuai jurusan.
2. Tidak ada pembinaan: Sekolah lepas tangan, industri tidak ada mentor. Siswa bingung harus ngapain.
3. Beban biaya: Transport, makan, seragam. Orang tua yang nombok, padahal tidak digaji.
4. Waktu belajar terganggu: Ada siswa yang sampai tertinggal materi teori karena terlalu lama di lapangan.
5. Rawan eksploitasi: Jam kerja panjang, tidak ada asuransi, dan tidak ada perlindungan hukum yang jelas.

Agar pengenalan kerja jadi manfaat, bukan beban, ini yang harus dibenahi:
1. MoU yang tegas: Sekolah, industri, dan orang tua harus buat perjanjian tertulis. Isinya jelas: jobdesc siswa, jam kerja, mentor, dan jaminan keselamatan.
2. Guru pendamping aktif: Jangan antar lalu pergi. Guru produktif wajib monitoring tiap bulan ke tempat magang.
3. Sertifikasi & Uang saku: Industri yang dapat keuntungan dari tenaga siswa, wajar jika memberi uang saku dan sertifikat kompetensi.
4. Pemetaan industri sesuai jurusan: Jangan jurusan TKJ malah magang jualan. Harus sinkron.
5. Evaluasi bersama: Setelah magang, ada forum antara siswa, guru, dan industri untuk evaluasi. Yang bagus dipertahankan, yang buruk diperbaiki.

Pengenalan kerja itu ibarat pisau. Di tangan juru masak jadi alat bermanfaat. Di tangan yang salah bisa melukai.

SMK tidak boleh hanya jadi “pabrik lulusan”. Tapi harus jadi “pabrik pekerja terampil”. Kuncinya ada pada komitmen semua pihak: sekolah jangan lepas tangan, industri jangan mengeksploitasi, dan pemerintah harus mengawasi.

Karena tujuan akhirnya satu: anak SMK lulus siap kerja, bukan lulus siap kecewa.**

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA
x