x

Sayembara Ala Dedi Mulyadi: Keterwakilan Atas Kecewa Rakyat

waktu baca 3 menit
Minggu, 9 Agu 2026 16:41 96 Wawan Kusmiran

OPINI – Sayembara Ala Dedi Mulyadi: Keterwakilan Atas Kecewa Rakyat

Oleh : Wawan Kusmiran
Wartawan Tinggal di Cianjur

Di tengah banyaknya pejabat yang bicara tapi tidak bertindak, gaya Kang Dedi Mulyadi sebagai Gubernur Jawa Barat justru tampil beda. Salah satu yang paling viral adalah “sayembara”-nya. Bukan sayembara lomba biasa, tapi sayembara yang isinya teguran, tantangan, sekaligus solusi.

Sayembara secara bahasa adalah lomba atau kompetisi terbuka dengan hadiah bagi pemenangnya. Tapi di tangan Dedi Mulyadi, “sayembara” berubah makna.
Ia jadikan sayembara sebagai alat kontrol sosial yang secara langsung dibuat pendekatan makin mendalam dengan masyarakat.

Contoh: Sayembara bagi yang bisa menemukan tambang ilegal, sayembara bagi warga yang mau melapor jalan rusak, sayembara bagi yang bisa menjaga kebersihan sungai. Dan terbaru sayembara bagi yang berhasil menangkap begal di lingkungannya.
Intinya: rakyat dilibatkan, bukan hanya jadi penonton.

Bahasan: Sayembara Ala Dedi Mulyadi
Gaya ini lahir dari kekecewaan. Kecewa karena birokrasi lambat, karena aparat tutup mata, karena perusak alam dan fasilitas umum jalan terus. Dan semua seolah tak peduli bagi permasalahan yang muncul.

Maka daripada marah di balik meja, Kang Dedi lempar “tantangan” ke publik.
Dengan kamera, dengan bukti, dengan hadiah. Dan masalah yang sungguh sungguh perlu penanganan bisa terangkat, terutama guna memberikan solusi terbaik.

Ini bukan populisme kosong. Ini bentuk pemerintahan terbuka. Ia seolah bilang:
“Negara tidak bisa jalan sendiri. Ayo urang babarengan.”
Sayembara jadi jembatan antara pemimpin dan rakyat yang sudah lama kecewa karena suaranya tidak didengar.

Banyak manfaatnya dari sayembara KDM, Efektif dan cepat misalnya laporan warga langsung masuk. Kerusakan jalan, tambang liar, sampah sungai bisa cepat ketahuan karena “mata rakyat” lebih banyak dari mata ASN.

Menumbuhkan rasa memiliki. Saat rakyat diajak, mereka merasa punya tanggung jawab. Bukan hanya menuntut, tapi ikut menjaga.

Para perusak jadi mikir dua kali. Karena sekarang yang mengawasi bukan hanya polisi, tapi seluruh warga yang pegang HP. Rakyat yang tadinya apatis jadi percaya lagi: “Oh, ternyata pemimpin kita mau dengar.”

Pesan Moral sayembara ini ngajarin 3 hal penting: Pertama, Pemimpin harus turun, Jangan hanya menunggu laporan.
Kedua, Rakyat punya kuasa. Perubahan tidak akan jalan kalau hanya mengandalkan pemerintah. Ketiga, Jujur itu ada harganya, Tapi diam terhadap kerusakan, harganya jauh lebih mahal: masa depan anak cucu kita.

Respon Masyarakat responnya beragam, tapi mayoritas positif.
Di media sosial, banyak warga Jabar yang mendukung. “Akhirnya ada gubernur yang berani” jadi komentar yang sering muncul.
Warga merasa didengar. Laporan mereka tidak menguap.
Tentu ada juga yang kritik: “Masa ngurus negara pakai sayembara?” Tapi justru di situlah poinnya. Ketika sistem formal tidak jalan, maka butuh cara-cara tidak formal yang membumi.

Sayembara ala Dedi Mulyadi adalah bentuk protes yang elegan. Protes terhadap lambannya sistem, dengan menawarkan solusi.
Ini keterwakilan dari kekecewaan rakyat yang sudah lama: kecewa dengan janji, kecewa dengan kerusakan, kecewa dengan diamnya penguasa.

Di akhir, sayembara ini mengingatkan kita:
Negara ini bukan milik pejabat. Negara ini milik kita bersama. Dan menjaganya, adalah tugas kita bersama.**

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA
x