x

Mestinya Tuntunan Rasulullah Jadi Pedoman, Di Negeri Ini Makin Sulit Mencari Pejabat yang Amanah

waktu baca 4 menit
Selasa, 4 Agu 2026 13:46 6 Wawan Kusmiran

Oleh : Ahmad Sutardi

Betapa beratnya memikul beban jabatan bagi seseorang yang taat pada ketentuan Allah SWT. Jabatan yang disandang harus dilaksanakan sesuai ketentuan yang berlaku agar dari jabatan tersebut mengalir air keberkahan.

Sebaliknya bagi orang yang jauh dari ajaran agama, maka jabatan itu bagaikan durian runtuh. Ia akan menyongsong dengan suka cita, bahkan ada yang menyambutnya dengan pesta hura-hura. Naudzubillah.

Terkait beratnya amanah dari jabatan yang disandang seseorang, banyak tuntunan Rasulullah SAW dalam beberapa hadis, di antaranya:

Kesatu,”Barangsiapa yang kami beri jabatan untuk mengurusi suatu pekerjaan kemudian kami berikan kepadanya suatu pemberian (gaji), maka apa yang ia ambil setelah itu (selain gaji) adalah suatu bentuk pengkhianatan.”( HR.Abu Dawud )

Hadis ini mengancam seseorang yang mengambil penghasilan dari jabatannya dari luar gaji resminya, maka hal tersebut merupakan bentuk penghianatan. Khianat adalah lawan dari sifat amanah (dapat dipercaya). Perbuatan ini sangat dibenci Allah SWT.

Kedua, “Wahai Rasulullah, angkatlah kami sebagai pemimpin atas sebagian wilayah yang telah diberikan Allah Azza Wa Jalla kepadamu.” Dan seorang lagi mengucapkan perkataan serupa, maka beliau bersabda:

“Demi Allah, sesungguhnya kami tidak akan memberikan jabatan bagi orang yang meminta dan yang rakus terhadapnya.”HR Muslim.

Hadis ini memberi petunjuk kepada para pemangku kepentingan agar hati-hati memberi jabatan kepada orang yang ambisi memintanya. Berikanlah jabatan kepada orang berdasarkan penilaian memenuhi unsur-unsur norma yang dipersyaratkan.

Bagi yang berambisi dan bermental rakus biasanya cenderung orang tersebut tidak akan amanah. Tidak dibenarkan menurut sar’i orang model begini menduduki jabatan tertentu, apalagi jabatan strategis.

Ketiga, “ Jabatan kelak pada hari kiamat hanya akan menjadi penyesalan dan kehinaan, kecuali bagi orang yang dapat menunaikan kewajiban dan tanggung jawabnya “ HR Muslim.

Dalam hadis ini, Rasulullah SAW mengingatkan bahwa jabatan  adalah amanah. Barang siapa yang tidak amanah dalam menjalankan jabatannya, maka di hari pembalasan akan menjadi penyesalan dan kehinaan.

Sebaliknya bagi yang mampu menjalankan jabatan sebagai amanah, tegak lurus pada regulasi serta selalu malu kepada-Nya jika melenceng dalam menjalankan jabatan, maka orang tersebut akan mendapat kemuliaan di sisi-Nya.

Masalahnya, banyak ditemui saat ini, seseorang bisa gagal menunaikan tugas jabatannya karena tidak mampu mempertahankan amanah (khianat) atau karena tidak ada ilmu untuk itu (jahil).

Saat ini banyak pejabat yang menyalah gunakan jabatannya untuk kepentingan pribadi, tak peduli hal tersebut menabrak regulasi dan menurunkan marwah pemerintah. Dalam benaknya kapan lagi menguras harta atas jabatan yang disandangnya kalau tidak saat ini mungpung ada kesempatan.

Betapa mirisnya kondisi ini. Pejabat mana lagi yang harus kita percayai dalam upaya menjaga kekayaan negara ini? Hanya sepoi angin dan goyangan ilalang yang menjawabnya.

Sejatinya, Al-Qur’an telah memberi pelajaran dari kisah Nabi Yusuf terkait pentingnya pejabat menjaga amanah. Dikisahkan bahwa ia diberi kedudukan tinggi oleh Raja karena dapat dipercaya (amin), pandai menjaga (hafidz), dan berpengetahuan (alim) (QS. Yusuf 12: 54).

Dalam konteks ini, Allah SWT mengingatkan para pemangku kepentingan agar hati-hati memberi jabatan kepada seseorang. Jabatan itu harus jatuh pada orang yang tepat, ialah orang yang memiliki kompetensi, berakhlak mulia, dan selalu amanah menjaga jabatannya.

Kini, tinggal kita renungi keadaan di sekitar kita. Hampir tiap saat beranda media sosial kita berseliweran para pejabat yang tersandung masalah hukum gara-gara tidak amanah menjalankan jabatannya.

Pejabat yang tidak amanah selalu memanfaatkan jabatannya untuk memeras, menyalahgunakan jabatan untuk kepentingan pribadi. Orang yang dipimpinnya merasa tertekan dan selalu tidak nyaman.

Negara akan rugi besar jika punya pejabat model begini. Orang tersebut akan jadi benalu di negeri ini. Bagaikan duri dalam daging. Akan mendegradasi kewibawaan pemerintah.

Persoalan mendasar sekarang ini, makin sulit menemukan penguasa yang mampu menempatkan seseorang dalam jabatan tertentu berdasarkan pertimbangan norma, moral dan kompetensi.

Yang tersisa dan berlangsung di depan mata sekarang ini adalah  pengangkatan seseorang dalam jabatan tertentu rata-rata berdasarkan like in dislike, KKN dan unsur balas jasa dalam upaya melanggengkan kepentingan.

Jika ini yang terjadi, maka makin sulit negeri ini punya pejabat-pejabat yang amanah. Naudzubillah…***

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA
x