x

Pemilu Bukan Akhir, Tapi Awal Amanah

waktu baca 2 menit
Sabtu, 25 Jul 2026 12:22 24 Wawan Kusmiran

Oleh: Biqi Ahmad Fadilah, SH
Koordinator Anti Korupsi Dewan Kota Cianjur

Pemilu seharusnya menjadi pesta demokrasi paling sakral. Di sanalah rakyat menitipkan harapan: agar lahir pemimpin dan wakil rakyat yang bekerja untuk kepentingan bangsa, bukan untuk kepentingan segelintir orang.

Harapannya sederhana. Rakyat ingin keadilan ditegakkan. Kesejahteraan dirasakan. Kemajuan tidak hanya jadi slogan di baliho.

*Ketika Amanah Berbelok Arah*
Namun refleksi kritis harus kita sampaikan. Di lapangan masih muncul kegelisahan.
Ada anggapan bahwa sebagian pemimpin dan anggota legislatif yang terpilih justru lebih sibuk mengurus kepentingan pribadi, keluarga, kelompok, bahkan kroni.

Lebih memprihatinkan lagi, jabatan politik kadang digunakan sebagai pintu untuk memperluas pengaruh ekonomi dan bisnis. Ada potensi konflik kepentingan. Ada potensi penyalahgunaan kekuasaan.

Jika ini dibiarkan, apa yang terjadi?
Kepercayaan publik pada demokrasi akan runtuh. Kebijakan publik tidak lagi berpihak pada rakyat kecil. Yang diuntungkan justru mereka yang punya akses dan kedekatan dengan kekuasaan. Kesenjangan makin lebar. Rasa keadilan makin menipis.

*Benahi Sistem, Bukan Hanya Ganti Orang*
Karena itu, pemilu harus terus kita perbaiki. Bukan hanya soal siapa yang menang, tapi bagaimana prosesnya.

5 hal ini mutlak:
1. *Integritas penyelenggara* – KPU dan Bawaslu harus steril dari kepentingan.
2. *Transparansi dana politik* – agar rakyat tahu siapa yang membiayai siapa.
3. *Penegakan hukum yang adil* – tanpa tebang pilih.
4. *Pengawasan yang kuat* – dari lembaga negara dan masyarakat sipil.
5. *Partisipasi aktif rakyat* – jangan golput, awasi, dan kritisi.

*Jabatan Adalah Amanah, Bukan Warisan*
Pada akhirnya kita harus ingat: jabatan politik itu amanah. Bukan proyek. Bukan warisan. Bukan cara untuk memperkaya diri, keluarga, atau memperluas “kerajaan bisnis”.

Keberhasilan seorang pemimpin dan wakil rakyat tidak diukur dari berapa banyak proyek yang masuk, tapi dari berapa banyak rakyat yang hidupnya berubah jadi lebih baik. Dari kebijakan yang adil, pemerataan pembangunan, terbukanya lapangan kerja, dan meningkatnya kesejahteraan.

Mari kita kembalikan marwah pemilu. Jadikan ia jalan lahirnya pemimpin yang benar-benar mengabdi.
Karena demokrasi tanpa integritas, hanyalah transaksi kekuasaan. **

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA
x