MENU Rabu, 03 Jun 2026
x

Qurban dan Kemiskinan

waktu baca 4 menit
Kamis, 28 Mei 2026 00:51 78 Wawan Kusmiran

Oleh : Unang Margana*

Setiap tahun pada Hari Raya Idul Adha, umat Islam sedunia kembali diingatkan pada makna pengorbanan; keikhlasan, dan kepedulian sosial. Di Indonesia, tradisi qurban bukan sekadar ritual tahunan, melainkan momentum memperkuat solidaritas terhadap masyarakat kecil. Di tengah naiknya harga kebutuhan pokok dan tekanan ekonomi yang masih dirasakan sebagian warga, qurban menghadirkan pesan penting bahwa agama harus mampu menjawab persoalan sosial, terutama kemiskinan.

Qurban memiliki dimensi spiritual sekaligus sosial. Ibadah ini mengajarkan bahwa dalam setiap harta yang dimiliki seseorang terdapat hak orang lain. Daging qurban yang dibagikan kepada masyarakat miskin menjadi simbol pemerataan dan kepedulian. Bagi sebagian keluarga, Iduladha bahkan menjadi satu-satunya kesempatan menikmati daging dalam setahun. Karena itu, qurban tidak hanya bermakna penyembelihan hewan, tetapi juga penghormatan terhadap martabat manusia.

Dalam sejarah Islam, qurban berawal dari kisah Nabi Ibrahim AS yang diperintahkan Allah SWT untuk mengorbankan putranya, Nabi Ismail AS. Peristiwa itu menjadi simbol ketaatan dan keikhlasan luar biasa. Namun substansi terpenting dari kisah tersebut bukan hanya soal pengorbanan pribadi, melainkan kesediaan menempatkan nilai kemanusiaan dan ketakwaan di atas kepentingan diri sendiri. Semangat itulah yang diwariskan dalam tradisi qurban hingga sekarang.

Pada masa Nabi Muhammad Rasulullah SAW, qurban juga memiliki fungsi sosial yang sangat kuat. Daging qurban dibagikan kepada fakir miskin agar seluruh masyarakat dapat merasakan kebahagiaan hari raya. Nilai itu tetap relevan hingga kini, terutama ketika kesenjangan sosial dan ekonomi masih menjadi persoalan besar di Indonesia.

Data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa jumlah penduduk miskin Indonesia pada September 2024 mencapai 24,06 juta orang atau sekitar 8,57 persen dari total penduduk Indonesia. Angka tersebut memang mengalami penurunan dibanding Maret 2024, tetapi jumlahnya tetap sangat besar. Kemiskinan di wilayah perdesaan juga masih lebih tinggi dibanding perkotaan.

Angka tersebut menunjukkan bahwa jutaan masyarakat Indonesia masih menghadapi kesulitan memenuhi kebutuhan dasar seperti pangan, pendidikan, kesehatan, dan tempat tinggal yang layak. Selain kelompok miskin ekstrem, muncul pula kelompok “rentan miskin”, yakni masyarakat yang berada sedikit di atas garis kemiskinan tetapi sangat mudah jatuh miskin ketika terkena krisis ekonomi, gagal panen, atau kehilangan pekerjaan.

Realitas ini dapat dilihat di sekitar kita. Di desa-desa, masih banyak warga yang menggantungkan hidup pada sektor informal dengan penghasilan tidak menentu. Di perkotaan, pekerja harian dan buruh kecil harus menghadapi biaya hidup yang terus meningkat. Ironisnya, di tengah situasi tersebut, budaya konsumtif dan pamer kemewahan justru semakin kuat melalui media sosial. Qurban seharusnya menjadi pengingat bahwa kekayaan memiliki tanggung jawab sosial.

Meski demikian, qurban tentu bukan solusi tunggal untuk menghapus kemiskinan. Pembagian daging qurban hanya bersifat sementara dan konsumtif. Namun nilai-nilai di balik qurban dapat menjadi fondasi membangun sistem sosial yang lebih adil dan manusiawi. Semangat berbagi, gotong royong, dan empati perlu diterjemahkan dalam kehidupan sehari-hari serta kebijakan yang berpihak kepada rakyat kecil.

Momentum Iduladha seharusnya juga dimanfaatkan untuk memperkuat ekonomi masyarakat bawah. Pengelolaan qurban dapat diarahkan pada pemberdayaan peternak lokal, penguatan koperasi desa, dan distribusi yang tepat sasaran. Dengan demikian, qurban tidak hanya memberi manfaat sesaat, tetapi juga membantu perputaran ekonomi masyarakat kecil.

Selain itu, kepedulian sosial jangan hanya muncul saat hari raya. Membantu pendidikan anak kurang mampu, mendukung usaha mikro, atau membeli produk masyarakat kecil merupakan bentuk kepedulian yang relevan dengan semangat qurban. Sebab esensi pengorbanan tidak hanya diwujudkan melalui penyembelihan hewan, tetapi juga melalui kesediaan berbagi kepada sesama.

Penutup

Pada akhirnya, qurban mengajarkan bahwa kemuliaan manusia tidak diukur dari banyaknya harta, melainkan dari sejauh mana ia memberi manfaat bagi orang lain. Di tengah masih besarnya angka kemiskinan di Indonesia, pesan itu menjadi sangat penting untuk terus dihidupkan. Iduladha bukan hanya perayaan keagamaan, tetapi juga panggilan moral agar masyarakat tidak menutup mata terhadap penderitaan kaum miskin.

Jika semangat qurban benar-benar dipahami, maka ibadah ini dapat menjadi energi sosial untuk memperkuat solidaritas, mengurangi kesenjangan, dan membangun keadilan sosial. Sebab bangsa yang besar bukan hanya bangsa yang maju secara ekonomi, tetapi juga bangsa yang mampu menjaga kemanusiaan dan kepedulian terhadap rakyat kecil.

Cianjur, 26 Mei 2026

*Pemerhati di Bengkel Politik Cianjur (BPC)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA
x