x

KHUTBAH JUMAT 2 Momentum Hari Kemerdekaan RI

waktu baca 5 menit
Sabtu, 15 Agu 2026 16:59 12 yudi andriyani

Oleh : Ayi Mamduh, S.Ag., M.Pd

Wakil Sekretaris 4 MUI Kab. Cianjur

 

Ayi Mamduh, S.Ag., M.Pd

Mengisi Kemerdekaan dengan Ilmu dan Adab: Membentengi Gen Z dari Kemaksiatan Modern

KHUTBAH PERTAMA

 

اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ خَلَقَ الشَّبَابَ قُوَّةً لِلْأُمَمِ، وَجَعَلَ حُبَّ الْأَوْطَانِ مِنَ الْإِيْمَانِ وَالْقِيَمِ.

* أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، مَالِكُ الْمُلْكِ وَالْكَرَمِ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، خَيْرُ مَنْ قَادَ الشَّبَابَ إِلَى طَرِيْقِ الْهُدَى وَالْهِمَمِ.

اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الَّذِيْنَ جَاهَدُوْا فِيْ سَبِيْلِ اللهِ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْقَدِيْرِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.

* قَالَ اللهُ تَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.

Jamaah Shalat Jumat yang Dirahmati Allah,

Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dengan sebenar-benar takwa. Menjalankan perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Selawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada uswatun hasanah kita, Nabi Muhammad SAW, keluarga, sahabat, dan para pengikutnya yang setia hingga akhir zaman.

Jamaah Shalat Jumat yang Berbahagia,

Di bulan Agustus ini, bangsa kita memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Kemerdekaan ini adalah nikmat dan berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa, yang ditebus dengan tetesan darah, air mata, dan nyawa para syuhada serta pahlawan bangsa. Namun, kemerdekaan fisik dari penjajahan bangsa asing telah usai.

Tugas kita hari ini, terutama generasi muda yang kerap disebut sebagai Gen Z, adalah

mempertahankan kemerdekaan batin, kemerdekaan berpikir, dan kemerdekaan moral dari penjajahan gaya baru.

Seorang penyair Mesir, Ahmad Syauqi, pernah menggubah bait syair yang sangat masyhur:

“Sesungguhnya kejayaan suatu bangsa terletak pada akhlaknya. Jika akhlak mereka telah runtuh, maka runtuh pulalah bangsa tersebut.”

Sidang Jumat yang Dimuliakan Allah,

Ada sebuah ungkapan bijak dalam bahasa Arab yang ditulis oleh para ulama terdahulu untuk memotret tanda-tanda kehancuran karakter sebuah generasi. Ungkapan itu berbunyi:

وَيُضَيِّعُ مَالِكَ، وَيُبَالِغُ فِي الْإِدْلَالِ، وَيَمْتَنِعُ عَنِ التَّعَلُّمِ وَالتَّأَدُّبِ

Artinya: “Dan dia menyia-nyiakan hartamu, berlebihan dalam bersikap angkuh (merasa berjasa/manja), serta enggan untuk belajar dan beradab.”

Jika kita bedah, tiga penyakit moral dalam ungkapan ini sedang mengintai generasi muda kita, utamanya di tengah gempuran kemaksiatan modern.

Pertama: وَيُضَيِّعُ مَالِكَ (Dan dia menyia-nyiakan hartamu).

Kemerdekaan dan kemajuan teknologi hari ini memberikan kemudahan fasilitas materi yang luar biasa.

Namun, banyak dari generasi muda yang terjebak dalam budaya hedonisme, foya-foya, dan menyia-nyiakan harta demi validitas semu di media sosial. Harta yang seharusnya menjadi modal membangun bangsa, habis untuk gaya hidup yang tidak bernilai. Padahal, Allah SWT telah memperingatkan dalam Qs Al-Isra’ ayat 27:

إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ ۖ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِرَبِّهِ كَفُورًا

“Sesungguhnya orang-orang yang pemboros itu adalah saudara-saudara setan dan setan itu sangat ingkar kepada Tuhannya.”

Kedua: وَيُبَالِغُ فِي الْإِدْلَالِ (Dan dia berlebihan dalam bersikap angkuh/manja).

Kata Al-Idlal berarti sikap merasa diri paling benar, egois, dan manja karena merasa paling berjasa.

Di era digital, sikap ini menjelma menjadi sifat ujub dan sombong. Ketika kebebasan berekspresi disalahartikan sebagai kebebasan tanpa batas, banyak anak muda yang meremehkan nasihat orang tua dan norma agama. Mereka merasa bisa hidup mandiri hanya dengan layar gawai mereka, lalu memandang rendah nilai-nilai luhur ketimuran dan syariat Islam.

Rasulullah SAW mengingatkan dalam hadis riwayat Muslim:
“Kesombongan itu adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.”

Ketiga: وَيَمْتَنِعُ عَنِ التَّعَلُّمِ وَالتَّأَدُّبِ (Serta enggan untuk belajar dan beradab).

Inilah puncak bahayanya. Ketika hati sudah angkuh, mereka membentengi diri dari ilmu agama yang sahih dan menolak untuk beradab (at-ta’addub). Akibatnya, mereka menjadi sasaran empuk infiltrasi ideologi menyimpang dan kemaksiatan modern, salah satu yang paling nyata dan agresif hari ini adalah gerakan LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender) serta propaganda gender fluid.

Jamaah Shalat Jumat yang Dirahmati Allah,

Kemaksiatan modern seperti LGBT hari ini tidak lagi datang dengan cara-cara konvensional.

Mereka masuk secara halus melalui tontonan, musik, literasi pop, gim online, hingga tren media sosial yang digandrungi Gen Z. Atas nama “hak asasi”, “kebebasan”, dan “toleransi”, kemaksiatan yang dahulu menghancurkan kaum Nabi Luth ini dikemas menjadi sesuatu yang terlihat keren, modern, dan wajib diterima.

Ketika Gen Z enggan belajar agama dan tidak memiliki adab (yamtani’ ‘an at-ta’allum wa at-ta’addub), mereka tidak akan mampu membedakan mana kemajuan teknologi dan mana pembusukan moral. Mereka akan dengan mudah menerima paham yang jelas-jelas dikutuk oleh Allah SWT.
Ingatlah bagaimana Allah mengabadikan kisah kaum Nabi Luth dalam Surat Al-A’raf ayat 80-81:

وَلُوطًا إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ أَتَأْتُونَ الْفَاحِشَةَ مَا سَبَقَكُمْ بِهَا مِنْ أَحَدٍ مِنَ الْعَالَمِينَ * إِنَّكُمْ لَتَأْتُونَ الرِّجَالَ شَهْوَةً مِنْ دُونِ النِّسَاءِ ۚ بَلْ أَنْتُمْ قَوْمٌ مُسْرِفُونَ

“Dan (Kami juga telah mengutus) Luth, ketika dia berkata kepada kaumnya, ‘Mengapa kamu melakukan perbuatan keji itu, yang belum pernah dilakukan oleh seorang pun sebelum kamu di dunia ini? Sungguh, kamu telah menyalurkan syahwatmu kepada sesama lelaki, bukan kepada perempuan. Kamu benar-benar kaum yang melampaui batas.’”

Ma’asiral Muslimin Rahimakumullah,

Merdeka bukan berarti bebas berbuat maksiat. Merdeka berarti bebas dari belenggu nafsu setan menuju ketaatan mutlak kepada Allah SWT.

Para pahlawan kita mendirikan bangsa ini dengan asas Ketuhanan Yang Maha Esa. Mereka tidak mengorbankan nyawa agar generasi penerusnya menjadi generasi yang rusak moralnya, melanggar kodrat penciptaan, dan mengundang murka Allah turun ke bumi Indonesia.

Oleh karena itu, benteng utama bagi Gen Z hari ini adalah kembali pada dua hal yang ditolak dalam ungkapan tadi: Kembali belajar (Ilmu) dan Kembali beradab (Akhlak). Isilah kemerdekaan ini dengan menuntut ilmu syar’i, bentengi diri dengan lingkungan yang saleh, dan hiasi diri dengan adab Islami agar kita tidak menjadi generasi yang menyia-nyiakan masa depan bangsa dan agama.

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ. أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.

KHUTBAH KEDUA

الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ، اِتَّقُوا اللهَ تَعَالَى فِيْمَا أَمَرَ، وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى عَنْهُ وَزَجَرَ. وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ، وَثَنَّى بِمَلَائِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ، فَقَالَ تَعَالَى: إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا.

Jamaah Shalat Jumat yang Dirahmati Allah,

Di khutbah yang kedua ini, mari kita bulatkan tekad untuk menjaga keluarga kita, anak-anak kita, dan generasi Gen Z dari bahaya laten maksiat modern. Jangan biarkan gawai mereka menjadi pintu masuknya pemikiran menyimpang LGBT.

Jangan biarkan kelalaian kita dalam mendidik adab membuat mereka tumbuh menjadi manusia yang angkuh dan menyia-nyiakan nikmat kemerdekaan ini.

Mari kita jaga ruang keluarga kita dengan dialog, bimbingan ilmu, dan keteladanan akhlak. Tugas kita belum selesai.

Menjaga moral bangsa adalah bentuk syukur atas kemerdekaan yang sesungguhnya.

Marilah kita berdoa kepada Allah agar bangsa Indonesia senantiasa dilindungi, dan generasi muda kita diselamatkan dari fitnah akhir zaman.

* اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدَّعَوَاتِ.
* اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِينَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِينَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّينِ.
* اللَّهُمَّ احْفَظْ شَبَابَنَا وَأَوْلَادَنَا مِنَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ. اللَّهُمَّ جَنِّبْهُمْ مُنْكَرَاتِ الْأَخْلَاقِ وَالْأَهْوَاءِ وَالْأَدْوَاءِ.
* اللَّهُمَّ اجْعَلْ بَلْدَتَنَا إِنْدُونِيسِيَا بَلْدَةً طَيِّبَةً، آمِنَةً مُطْمَئِنَّةً، وَسَائِرَ بِلَادِ الْمُسْلِمِينَ.

عِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ ۚ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ.

فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَىٰ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ.

Sudut Griyanugratama, H. 14/08/26, P. 10.51

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA
x