x

“Catatan Kepemimpinan Koperasi”, Aset Bertambah, Organisasi Menghilang: Pelajaran dari Banyak Koperasi

waktu baca 3 menit
Selasa, 4 Agu 2026 19:25 36 yudi andriyani

Oleh : Lukmanul Hakim,
Praktisi Koperasi

“Catatan Kepemimpinan Koperasi”

Aset Bertambah, Organisasi Menghilang: Pelajaran dari Banyak Koperasi

Beberapa tahun terakhir saya berkesempatan mengunjungi, berdiskusi, dan
melakukan penelitian pada berbagai Koperasi Syariah Baitul Maal wat Tamwil
(BMT) di Jawa Barat. Dari berbagai pertemuan tersebut, saya menemukan sebuah
ironi yang terus berulang. Semakin besar sebuah koperasi berkembang, semakin
besar pula risiko yang dihadapi ketika hampir seluruh keputusan strategis
bertumpu pada satu orang. Secara normatif, koperasi merupakan badan usaha yang
dimiliki oleh seluruh anggota dan dikelola berdasarkan prinsip demokrasi ekonomi.
Namun, dalam praktiknya, tidak sedikit koperasi yang berjalan seolah-olah menjadi
milik segelintir pengurus. Kepemimpinan yang semestinya bersifat kolektif-kolegial
berubah menjadi sangat personal, sehingga arah organisasi bergantung pada figur
ketua. Ketika figur tersebut melemah, mengundurkan diri, atau tidak lagi mampu
menjalankan perannya, organisasi pun kehilangan arah. Dari fenomena inilah saya
semakin meyakini bahwa ancaman terbesar terhadap keberlanjutan koperasi
bukan semata-mata kekurangan modal, melainkan krisis kepemimpinan dan tata
kelola.

Paradoks tersebut semakin nyata ketika ukuran keberhasilan koperasi
masih lebih sering diidentikkan dengan besarnya aset, volume usaha, atau nilai Sisa
Hasil Usaha (SHU). Indikator-indikator tersebut memang penting untuk mengukur
kinerja ekonomi, tetapi belum tentu mencerminkan kesehatan organisasi. Tidak
sedikit koperasi yang memiliki aset sangat besar, namun sebagian pertumbuhannya
ditopang oleh pembiayaan dari perbankan, pinjaman lembaga lain, maupun
penghimpunan dana masyarakat yang membawa konsekuensi risiko likuiditas.
Ketika ekspansi kelembagaan tidak diimbangi dengan tata kelola yang sehat dan
kepemimpinan yang kuat, pertumbuhan tersebut justru dapat menjadi sumber
kerentanan di masa depan.

Di tengah perubahan lingkungan yang semakin cepat akibat digitalisasi,
perubahan perilaku anggota, meningkatnya persaingan lembaga keuangan, serta
tuntutan tata kelola yang semakin profesional, koperasi dituntut menjadi organisasi
yang adaptif. Organisasi yang hanya mengandalkan keberhasilan masa lalu akan
sulit mempertahankan eksistensinya apabila tidak mampu membaca perubahan
lingkungan.

Pada titik inilah kepemimpinan menjadi faktor yang menentukan. Pemimpin
koperasi tidak lagi cukup berperan sebagai administrator yang menjalankan
rutinitas organisasi. Mereka dituntut menjadi agen perubahan yang mampu
membangun visi bersama, mengelola ketidakpastian, memperkuat tata kelola,
mendorong inovasi, serta menyiapkan organisasi menghadapi tantangan masa
depan. Kepemimpinan adaptif bukan sekadar kemampuan mengambil keputusan,
tetapi kemampuan membangun sistem yang membuat organisasi tetap berjalan,
bahkan ketika pemimpinnya berganti.

Dalam konteks koperasi syariah, kepemimpinan juga tidak dapat dilepaskan
dari nilai amanah. Jabatan pengurus bukanlah simbol kepemilikan, melainkan
mandat dari anggota yang harus dipertanggungjawabkan. Semakin besar organisasi
berkembang, semakin besar pula tuntutan agar pengambilan keputusan dilakukan
secara transparan, partisipatif, dan kolektif. Pemimpin yang berhasil bukanlah
mereka yang membuat organisasi bergantung pada dirinya, melainkan mereka yang
mampu membangun kelembagaan yang kuat, menyiapkan kader penerus, serta
memastikan koperasi tetap tumbuh melampaui masa kepemimpinannya.
Karena itu, agenda pengembangan koperasi ke depan tidak cukup hanya
berfokus pada penguatan permodalan atau ekspansi usaha. Yang jauh lebih
mendasar adalah membangun kepemimpinan yang adaptif, tata kelola yang sehat,
dan budaya organisasi yang menempatkan anggota sebagai pemilik sejati koperasi.
Sebab pada akhirnya, keberlanjutan koperasi tidak ditentukan oleh seberapa besar
aset yang berhasil dikumpulkan, melainkan oleh seberapa kuat kepemimpinannya
menjaga amanah, membangun regenerasi, dan memastikan organisasi tetap hidup
melayani anggotanya dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA
x