x

NUSA WASTE: SAMPAH JADI BERKAH

waktu baca 3 menit
Rabu, 10 Jun 2026 17:24 26 Wawan Kusmiran

Oleh: Unang Margana*

Permasalah Sampah di Indonesia, beberapa Pemerintah Daerah sudah menyatakan Darurat sampah, karena masalah sudah di depan mata. Begitupun TPA di Cianjur sudah meledak, sungai tersumbat, warga RT saling lempar tanggung jawab. UU 18/2008 dan Permen LHK No 14/2021 sudah jelas: sampah harus dipilah dari sumber dan diolah sedekat mungkin. Tapi regulasi tanpa aksi warga, menhadi dokumen mati. Solusinya bukan mesin mahal dari luar. Solusinya ada di dapur kita sendiri. Namanya NUSAWASTE.

NUSAWASTE = Nusantara Waste to Value

Maknanya sederhana: cara Nusantara mengubah sampah jadi nilai. Nggak ngopi konsep impor. Kita pakai kearifan lokal: gotong royong RT-RW, pilah organik-anorganik kayak nenek moyang dulu. Filosofinya satu kalimat: yang buang rugi, yang pilah untung.

Ada 3 (tiga) Pilar NUSAWASTE yang bisa langsung jalan: Pertama, PILAH dari Dapur, Bukan dari TPA.
Kuncinya di ibu-ibu dan bapak-bapak di rumah. Pisahkan 3 jenis: organik untuk kompos, anorganik untuk dijual, residu untuk TPA. Nggak perlu rumit. 2 ember + 1 karung cukup. Kalau 1 RW yang isinya 200 KK komit pilah, beban TPA langsung turun 60%. Ini amanat Permen LHK 14/2021 Pasal 5: pemilahan wajib dilakukan penghasil sampah. Kedua, OLAH di RT/RW, Jangan Ekspor Masalah. Setelah dipilah, sampah organik masuk TPST 3R skala RW jadi kompos. Sampah plastik-kertas-logam masuk Bank Sampah, ditimbang, dicatat, jadi uang kas warga. Mesin pencacah + ayakan kompos harganya jauh di bawah 1 truk sampah ke TPA tiap hari. Dana Desa, CSR, APBD bisa masuk sini. Yang penting: olah sedekat mungkin, sesuai SE KLHK No 2/2023. Ketiga, CUAN untuk Kas RT, Bukan Utang ke TPA. Ini mentalitas baru. Kompos dijual ke petani, flake plastik dijual ke pengepul. Hasilnya masuk kas Bank Sampah RW. Bisa buat bayar petugas kebersihan, beli bibit, atau santunan warga. Tiba-tiba “biaya sampah” berubah jadi “pendapatan sampah”. Warga yang tadinya masa bodoh, sekarang jadi satpam lingkungan karena ada untungnya.

Siapa yang jalanin? NUSAWASTE ngajak balik ke konsep Nusantara: gotong royong. Ibu-ibu pilah dari dapur, bapak-bapak kelola TPST RW, Karang Taruna jadi tim logistik. Di lapangan, aksi ini sudah dibuktikan komunitas yang jalan duluan. Diantaranya, Organisasi PERBANUSA, misalnya, aktif sebagai pengelola Bank Sampah di beberapa wilayah. Mereka bukti nyata bahwa pilah-dari-rumah itu bisa, asal ada pendampingan dan komitmen. Keberadaan PERBANUSA yang merupakan organisasi yang mendukung pelaksanaan pengelolaan sampah dan bank sampah sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 14 Tahun 2021 tentang Pengelolaan Sampah pada Bank Sampah.”

Pemerintah cukup jadi regulator dan fasilitator. Bupati/Wali Kota kasih pelatihan pilah, hibah mesin pencacah, dan perda yang ngunci: RW wajib punya TPST 3R. Dinas LH jadi “dosen lapangan” yang muter dari RT ke RT. Nggak perlu nunggu APBN triliunan. Cukup geser anggaran: dari bayar angkut TPA, ke bangun kapasitas warga.

Penutup

Krisis sampah ini ujian. Tapi ujian ini bisa jadi berkah kalau kita mau ubah mindset. NUSAWASTE bukan sekadar program. Ini gerakan budaya baru: Sampah Nggak Buang, Tapi Muter Jadi Cuan. Pengelolaannya bisa kerjasama dengan PERBANUSA.

Kita bayangkan Cianjur 2 tahun lagi: tiap RW punya TPST bersih, ibu-ibu pegang buku tabungan Bank Sampah, anak-anak sekolah diajar pilah sampah kayak diajar ngaji. TPA awet 20 tahun, sungai nggak banjir lagi, kas RT tebal. Kita Mulai dari mana? Mulai dari dapur bapak-ibu malam ini. Pilah. Olah. Cuan. Karena Nusa bersih, warga sejahtera. Itulah NUSAWASTE: Sampah Jadi Berkah.

Cianjur, 10 Juni 2026

*Dosen, Advokat, Pemerhati Kebijakan Publik

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA
x