x

Atap Baru, Harapan Baru: Cerita Kebangkitan Masjid At Taqwa Cisaat

waktu baca 2 menit
Rabu, 10 Jun 2026 13:59 8 Wawan Kusmiran

Atap Baru, Harapan Baru: Cerita Kebangkitan Masjid At Taqwa Cisaat

Cianjur– Azan Zuhur berkumandang. Puluhan warga Kp. Cisaat, Desa Sabandar, Karangtengah, Cianjur, bergegas melangkah masuk ke Masjid Jami At Taqwa. Bedanya kali ini: tak ada lagi yang menengadah khawatir. Tak ada lagi suara kepak sayap burung dari sela-sela atap.

Sepekan terakhir, masjid kebanggaan warga RW 08 itu pelan-pelan berubah wajah. Setelah sempat terhenti karena fokus Idul Adha, pembangunan kembali dilanjutkan. Dan hasilnya langsung terasa.

“Dulu kalau salat suka was-was. Di atas kepala bolong, kotoran burung suka jatuh. Sajadah harus sering digeser,” kenang H. Eman Sulaeman sambil tersenyum. Lelaki yang jadi Seksi Usaha dan Dana Panitia Pembangunan itu menunjuk ke langit-langit masjid yang kini sudah rapi diplafon. “Alhamdulillah, sekarang jamaah bisa sujud dengan tenang.”

Perubahan itu memang belum total. Lantai atas masih menunggu giliran. Tapi bagi warga 3 RT di RW 08 dan sebagian RW 07 yang sehari-hari memakmurkan masjid ini, plafon baru adalah napas lega.

Di serambi, Ketua DKM Ustadz Yusuf Iskandar duduk bersila. Matanya menerawang ke arah mihrab, seolah membayangkan hari ketika bangunan ini rampung sepenuhnya. “Target kami, lantai dasar dan atas selesai, masjid ini bisa menampung 1.000 jamaah,” katanya pelan. “Bayangkan kalau Idul Fitri atau Idul Adha, semua warga bisa salat di dalam. Tidak kehujanan, tidak kepanasan.”

Pembangunan Masjid At Taqwa adalah cerita gotong royong. Tidak ada dana besar dari proyek pemerintah. Semua bergerak dari kantong warga, celengan ibu-ibu pengajian, sampai uluran tangan donatur yang bahkan tak mau disebut namanya. Berhenti sebentar saat Idul Adha bukan karena kehabisan dana, tapi karena warga sepakat: dahulukan kurban, dahulukan berbagi.

Kini tukang kembali mengetuk. Suara bor dan palu jadi musik pengiring zikir. Di dinding yang belum diplester, beberapa anak TPA menempelkan gambar kaligrafi hasil karyanya. Seolah ikut berkata: “kami ikut membangun rumah Allah ini.”

Bagi H. Eman, Ustadz Yusuf, dan ratusan jamaah At Taqwa, masjid ini lebih dari sekadar bangunan. Ia adalah titik temu, tempat anak-anak belajar ngaji, tempat warga bermusyawarah, tempat duka ditenangkan dan suka dirayakan.

Plafon yang terpasang pekan ini mungkin hanya satu tahap kecil. Tapi bagi warga Cisaat, ia adalah penanda: harapan itu sedang dibangun, selapis demi selapis, sampai kelak 1.000 sajadah bisa digelar tanpa ragu. (Kus)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA
x