MENU Rabu, 03 Jun 2026
x

MANIFESTO MIMBAR BEBAS YLBH CIANJUR “Melawan Pembusukan Demokrasi, Menegakkan Keadilan Rakyat”

waktu baca 3 menit
Kamis, 21 Mei 2026 20:34 13 yudi andriyani

MANIFESTO MIMBAR BEBAS YLBH CIANJUR

Kami menyatakan:

Bahwa demokrasi tanpa keberpihakan adalah ilusi.
Bahwa hukum tanpa independensi adalah alat kekuasaan.
Dan bahwa keadilan yang dinegosiasikan bukan lagi keadilan—melainkan transaksi.

Kami hidup dalam situasi di mana ketidakadilan tidak selalu tampil sebagai kekerasan terbuka. Ia hadir lebih halus: melalui pembiaran, melalui kompromi, melalui pelemahan perlahan terhadap daya kritis rakyat.

Kami melihat:

Lembaga yang seharusnya melindungi rakyat, perlahan ditarik ke pusaran kepentingan.
Suara kritis yang tidak dibungkam, tetapi dilelahkan.
Kebenaran yang tidak dibantah, tetapi dikaburkan.

Inilah bentuk baru penaklukan—tanpa teriakan, tanpa senjata, tetapi efektif mematikan perlawanan.

Kami menolak untuk menjadi bagian dari normalisasi ini.

DM Junaedi mengingatkan: lembaga bantuan hukum tidak boleh kehilangan akarnya. Ia lahir dari penderitaan rakyat, bukan dari meja kekuasaan. Ketika keberpihakan mulai dinegosiasikan, maka perjuangan telah dikalahkan sebelum dimulai.

Adi Supriadi mengingatkan bahaya kelelahan: ketika manusia mulai terbiasa kalah, mulai menerima ketidakadilan sebagai takdir. Tapi sejarah tidak pernah berubah oleh mereka yang menyerah. Maka kami tegaskan: tidak hari ini.

Unang Margana mengingatkan bahwa kekuasaan tanpa etika adalah kehampaan. Bahwa jabatan yang kehilangan arah moral hanya akan melahirkan kebijakan tanpa jiwa. Dan bahwa kritik—betapapun halus—adalah bentuk tanggung jawab, bukan ancaman.

Paskah Irianto menegaskan garis batas yang tidak boleh dilanggar: independensi. Ketika advokasi tunduk pada kepentingan politik, maka hukum berhenti menjadi pelindung dan berubah menjadi alat legitimasi kekuasaan. Pada titik itu, rakyat dibiarkan sendirian.

Marlin Dinamikanto menunjukkan bahwa perlawanan tidak selalu harus tampak. Ia bisa tumbuh dalam kebudayaan, dalam cara berpikir, dalam kesadaran yang dibangun perlahan. Inilah medan panjang yang menentukan arah masa depan.

Dian Rahadian mengingatkan: kesadaran tanpa konsolidasi adalah kelemahan. Maka perjuangan harus diorganisir, diarahkan, dan dijalankan secara berkelanjutan.

Kami percaya:

Bahwa ketidakadilan adalah sistem yang harus dihadapi dengan kesadaran kolektif.
Bahwa keberpihakan bukan pilihan netral, melainkan posisi yang harus ditegaskan.
Bahwa independensi adalah syarat mutlak, bukan sekadar nilai moral.

Kami tidak berbicara tentang perlawanan sebagai amarah sesaat.
Kami berbicara tentang perlawanan sebagai kesadaran yang terorganisir.

Kami tidak menunggu perubahan.
Kami membangunnya.

Maka kami menyerukan:

Menjaga independensi lembaga advokasi dari segala bentuk intervensi.
Menguatkan solidaritas antar gerakan rakyat.
Merawat ruang demokrasi sebagai ruang kritik yang sehat dan bertanggung jawab.
Membangun kesadaran melalui pendidikan, kebudayaan, dan kerja-kerja sosial yang berkelanjutan.

Bukan untuk menjatuhkan, tetapi untuk meluruskan.
Bukan untuk merusak, tetapi untuk memulihkan.
Bukan untuk kepentingan segelintir, tetapi untuk keadilan bersama.

Karena sejarah tidak ditulis oleh mereka yang diam.
Dan keadilan tidak pernah lahir dari ketakutan.

Perjuangan tidak akan berhenti.
Tidak hari ini.
Tidak esok.

Selama ketidakadilan masih ada,
selama itu pula suara ini akan tetap hidup.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA
x