x

Gaya Kepemimpinan Rasulullah SAW: Humanis dan Inspiratip Abadi Sepanjang Masa

waktu baca 3 menit
Rabu, 12 Agu 2026 16:34 9 yudi andriyani

Oleh : Ahmad Sutardi

Menjadi pemimpin, di mana pun berada, memang tidak mudah. Dibutuhkan kematangan dan keunggulan yang mumpuni untuk memimpin staf  mencapai  visi, misi dan tujuan organisasi.

Dalam konteks kepemimpinan di organisasi maupun birokrasi, banyak  referensi yang dijadikan fondasi dalam menjalankan tugas sehari-hari. Referensi tersebut berasal dari para pemikir yang sudah malang melintang di dunia manajemen yang berasal dari luar maupun dalam negeri.

Akan tetapi, seorang pemimpin muslim sebaiknya dapat mencontoh gaya kepemimpinan Rasulullah sebagai referensi dalam menjalankan tugas sehari-hari.

Inspirasi gaya kepemimpinan Rasulullah ini sebagai panduan agar arah perjalanan dalam memimpin, setidaknya tidak jauh melenceng dari prinsip kepemimpinan Islami.

Inspirasi kepemimpinan Islami diawali dengan persyaratan seorang pemimpin. Persyaratan tersebut di antaranya: (1) memiliki aqidah yang benar (aqidah salimah), (2) memiliki ilmu pengetahuan dan wawasan yang luas (`ilmun wasi`un), dan (3) memiliki akhlak yang mulia (akhlaqul karimah).

Selain itu, sifat-sifat kepemimpinan Islami yang telah populer sebagai rujukan pemimpin muslim adalah:

Shiddiq. Sifat shiddiq merupakan karakter mutlak yang harus dimiliki oleh seorang khalifah dalam kepemimpinan Islam. Seorang pemimpin dalam Islam memegang amanah besar untuk memimpin umat, menegakkan keadilan, dan menjaga syariat. Tanpa nilai-nilai kejujuran, kepemimpinan akan kehilangan kepercayaan bawahan.

Amanah. Sifat amanah merupakan syarat mutlak dalam kepemimpinan Islam. Seorang pemimpin yang amanah akan menjalankan tugas dengan jujur, bertanggung jawab, dan menjaga kepercayaan yang diberikan. Amanah mencakup kejujuran dalam tindakan dan kesetiaan dalam menjalankan tu-gas.

Tabligh. Tabligh merupakan sifat yang menyampaikan kebenaran atau informasi dengan jujur tanpa menyembunyikan apapun. Seorang pemimpin harus memiliki kemampuan untuk menyampaikan in-formasi yang benar dan jelas kepada bawahan, meskipun itu mungkin tidak selalu mudah atau populer.

Selain persyaratan dan sifat-sifat kepemimpinan tersebut, sebaiknya seorang pemimpin muslim juga dapat mencontoh sosok kepemimpinan Rasulullah dalam menjalankan tugasnya sehari-hari seperti tergambar dalam syair Solawat Jibril yang sering dilantunkan para santri di pondok pesantren, yaitu:

Anta Samsun : Pemimpin laksana matahari (menerangi, tegas, tegak lurus, konsisten). Da-lam fase ini pemimpin tampil sebagai ayah yang berani menegakkan  kebenaran dan selalu  menghargai bawahan.

Anta Badrun : Pemimpin laksana bulan purnama (lembut, teduh, mengayomi, kasih sayang, melindungi). Pemimpin tampil sebagai ibu yang selalu memberi kehangatan, sosoknya  sela-lu dirindukan bawahan.

 

Anta Iksirun wa gholi : Pemimpin laksana emas murni yang mahal harganya (kompeten, profesional, terpercaya). Pemimpin memiliki keunggulan membawa perubahan ke arah lebih baik.

Anta mishbahush-shuduri : Pemimpin laksana pelita hati (menyinari di kala bawahan men-derita, selalu empatik terhadap masalah bawahan). Pemimipin selalu membuka ruang dan waktu demi kepentingan bawahan.

Anta nurun fauqo nurin : Pemimpin laksana cahaya di atas cahaya (puncak elektabilitas seorang pemimpin, unggul, tidak tergantikan). Pemimpin sejati dicintai bawahan, sukses membawa organisasi ke puncak kejayaan, disegani dan dihargai kompetitor maupun stake holder lainnya.

 

Nah, Anda saat ini, berada di posisi mana?***

 

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA
x