MENU Rabu, 03 Jun 2026
x

Akhir Pesta Kirab Budaya Binokasih 2026

waktu baca 2 menit
Selasa, 19 Mei 2026 21:13 14 yudi andriyani
Di bawah langit senja Jawa Barat, Mahkota Binokasih kembali diarak melintasi sembilan kabupaten dan kota. Kirab Budaya Binokasih 2026 bukan sekadar prosesi adat — ia adalah perjalanan spiritual dan sejarah yang menautkan masa lalu Kerajaan Pajajaran dengan semangat masyarakat Sunda masa kini.
Mahkota yang dahulu menjadi simbol kekuasaan raja kini menjadi lambang persatuan budaya, diiringi oleh tarian jaipong, musik gamelan, dan arak-arakan rakyat yang mengenakan pakaian adat penuh warna. Dari Sumedang hingga Bandung, setiap langkah kirab membawa pesan: Ngajaga Warisan Sunda — menjaga akar budaya di tengah arus modernisasi.
Di mata dunia, pesta budaya ini menjadi ikon kebangkitan tradisi Nusantara. Banyak pengamat budaya internasional menilai Kirab Binokasih sebagai contoh nyata bagaimana masyarakat lokal mampu merawat warisan leluhur sambil membuka diri terhadap globalisasi.
·Media budaya Asia menyebutnya sebagai “living heritage parade”, sebuah prosesi yang menghidupkan sejarah dalam bentuk seni dan ritual.
·
·Komunitas antropologi Eropa memandang kirab ini sebagai model pelestarian budaya berbasis partisipasi masyarakat, bukan sekadar tontonan seremonial.
·
·UNESCO bahkan menyoroti potensi Binokasih sebagai warisan budaya takbenda yang layak didaftarkan secara resmi karena nilai sejarah dan kontinuitasnya.
Makna yang Menggetarkan Kirab Binokasih 2026 mengajarkan bahwa budaya bukanlah benda mati, melainkan denyut kehidupan yang terus beradaptasi. Dunia melihatnya sebagai bukti bahwa Indonesia — khususnya tanah Sunda — memiliki kekuatan untuk menafsirkan ulang tradisi menjadi inspirasi masa depan.
Napak Tilas yang Menghidupkan Sejarah
Di tengah semarak bulan Mei, Kirab Budaya Binokasih 2026 kembali menggema dari Sumedang hingga Bandung. Mahkota Binokasih — simbol kejayaan Kerajaan Pajajaran — diarak melintasi sembilan kabupaten dan kota di Jawa Barat. Prosesi ini bukan sekadar ritual adat, melainkan perjalanan spiritual yang menautkan masa lalu dengan masa kini. Setiap langkah kirab membawa pesan Ngajaga Warisan Sunda, menjaga akar budaya di tengah derasnya arus modernisasi.
Panggung Rakyat dan Identitas Sunda
Di sepanjang rute kirab, ribuan warga menyambut dengan tarian jaipong, musik gamelan, dan arak-arakan rakyat mengenakan pakaian adat penuh warna. Di Cianjur, prosesi berhenti sejenak di Situs Gunung Padang, simbol peradaban kuno yang kini menjadi saksi kebangkitan budaya. Sementara di Bandung, Gedung Sate menjadi panggung megah bagi Peuting Munggaran Milangkala Tatar Sunda — pertunjukan kolosal yang memadukan seni tradisi dan teknologi modern.
Dari berbagai sumber : Kumparan.com dan VR_VLOG22

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA
x