MENU Minggu, 28 Jun 2026
x

Tajug: Mengembalikan Panggung Moral ke Kampung

waktu baca 2 menit
Sabtu, 27 Jun 2026 00:44 20 Wawan Kusmiran

Oleh: Wan Kusmiran

Dulu, sebelum ada gedung megah dan AC, anak-anak kampung belajar mengaji di tajug. Lantainya tanah, palupuh atau papan kayu, atapnya genteng, dindingnya papan. Tapi isinya ilmu, adab, dan kehangatan.

Tajug bukan sekadar mushola kecil. Ia adalah kenangan kolektif bagi banyak orang yang pernah menuntut ilmu di sana. Tajug adalah simbol kesederhanaan. Ia berdiri jauh dari urusan materialistis. Guru ngajinya ikhlas, santrinya datang karena rindu ilmu, bukan karena fasilitas.

Iuran cuma cukup untuk membuat Tajug terang, atau hanya secanting minyak tanah pun dinilai sudah melebihi cukup. Ya.. Gak perlu uang ratusan ribu.

Saat ini, di tengah zaman yang serba cepat dan serba besar, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi atau KDM ingin mengembalikan peran tajug. Pemprov Jabar akan mendorong pembangunan lebih banyak masjid kecil di lingkungan masyarakat. Tujuannya jelas: mengembalikan tajug sebagai pusat pendidikan agama dan pembinaan karakter generasi muda.

Penilaian KDM tepat. Tajug punya peran sosial yang tidak bisa digantikan. Ia tempat anak-anak belajar Iqra, warga berkumpul saat pengajian, dan titik nol pembentukan nilai moral. Dari tajug lah lahir anak yang tahu beda halal-haram, tahu hormat ke orang tua, tahu gotong royong.

Sekarang tantangannya, jangan sampai semangat “banyak masjid” hanya jadi proyek fisik. Kalau isinya kosong, tanpa guru ngaji yang dibina, tanpa program yang hidup, maka tajug baru hanya akan jadi bangunan tidur.

Yang kita butuh bukan hanya atap dan dinding. Tapi ekosistemnya: guru ngaji yang sejahtera, buku yang cukup, dan dukungan warga agar anak-anak mau datang lagi setelah Magrib.

Di era media sosial yang bising ini, tajug bisa jadi penyeimbang. Tempat anak-anak lepas dari layar HP dan masuk ke majelis ilmu. Tempat kampung menjaga tradisinya sendiri, tanpa harus menunggu gedung besar di kota.

Karena itu, mari kita jaga tajug. Bukan hanya membangunnya, tapi menghidupkannya. Sebab dari kesederhanaan tajug, seringkali lahir generasi yang punya karakter paling kuat.**

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA
x