MENU Minggu, 28 Jun 2026
x

Stop Panggung Anak Dari Isi Dompet Orang Tua Ironi Dibalik Kenaikan Kelas

waktu baca 2 menit
Senin, 22 Jun 2026 21:09 8 Wawan Kusmiran

Oleh: Wan Kuamiran
Wartawan Anggota PWI Cianjur

Setiap akhir tahun ajaran, satu kata yang paling dinanti anak SD-SMP di Cianjur muncul: “Samen”. Acara menyambut kenaikan kelas itu sudah jadi tradisi. Ada panggung, ada tari, ada suara sumbang anak-anak nyanyi diiringi keyboard sewaan. Meski Dinas Pendidikan sudah melarang istilah “samen” dan menggantinya jadi “gelar karya murid” atau “pentas seni akhir tahun”, nyatanya nama “samen” tetap hidup di obrolan wali murid. Larangan ada, tapi rindunya tidak pernah dilarang.

Wajar samen dinanti. Setahun penuh anak-anak belajar baca, tulis, hitung. Masa sih tidak boleh sekali saja mereka tampil, dapat tepuk tangan, difoto pakai kebaya pinjaman? “Gelar karya” seharusnya justru mempertegas makna itu: panggung untuk karya murid, bukan panggung untuk formalitas dewasa. Sayangnya, di lapangan semangat itu sering bocor. Tradisi samen yang dulu sederhana, lama-lama berubah jadi beban. Ada sewa tenda, sewa sound, sewa kostum, iuran kas, sampai “sumbangan sukarela” yang nominalnya tidak pernah sukarela. Ujungnya orang tua yang pusing. Anak senang 2 jam di panggung, orang tua mikir cicilan 2 bulan ke depan.

Padahal kuncinya sederhana. Kembalikan samen ke roh awalnya: acara jalan dengan penampilan karya anak-anak murid. Biarkan mereka tampil pakai baju seragam, pakai atribut seadanya dari bahan bekas, pakai musik dari speaker sekolah. Yang penting bukan megah, tapi anak berani naik panggung. Pamerkan lukisan di kertas manila, baca puisi buatan sendiri, tari kreasi tanpa sewa penata rias. Guru cukup jadi fasilitator, bukan jadi panitia event organizer.

Kegiatan kenaikan kelas boleh ada. Tapi jangan membebani biaya pada orang tua. Negara sudah amanatkan pendidikan dasar gratis. Kalau tiap naik kelas orang tua harus keluar uang besar, lalu di mana letak “gratis” itu? Cukupkan dengan gotong royong: panggung dari panggung serbaguna sekolah, konsumsi dari hasil karya murid seperti kue atau minuman, dokumentasi minta tolong wali murid yang punya HP bagus.

Samen atau gelar karya, namanya boleh diganti. Tapi jangan ganti semangatnya. Anak-anak berhak merayakan hasil belajarnya. Orang tua berhak tenang tanpa dompet terkuras. Sekolah berhak bangga tanpa harus hutang panitia.

Karena pendidikan yang baik itu yang membuat anak naik kelas dengan bangga, bukan membuat orang tuanya turun kelas karena biaya. Kemudian apa pendapatmu?

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA
x