MENU Minggu, 28 Jun 2026
x

Ketika Jalan Diperbaiki, Cita-Cita Anak Ikut Mulus

waktu baca 3 menit
Jumat, 19 Jun 2026 22:19 8 Wawan Kusmiran

Oleh : Wandi Ubadilah, S. Pd

Mereka mungkin tidak berdiri di depan kelas untuk mengajar, tetapi keringat yang mereka curahkan hari ini adalah pelajaran tentang kebersamaan, dan pengorbanan. Jalan yang diperbaiki ini akan menjadi saksi langkah-langkah kecil anak-anak menuju cita-cita besar mereka.

Pendidikan sering kita bayangkan terjadi hanya di dalam empat dinding kelas. Ada guru di depan, papan tulis di belakang, dan anak-anak dengan seragam rapi. Padahal, keberhasilan pendidikan anak tidak pernah lahir dari ruang kelas saja.

Lihat saja apa yang terjadi di SD Negeri Mekarwinaya hari ini. Bapak-bapak, ibu-ibu, warga Cibubuay turun ke jalan. Bukan untuk demo, bukan untuk protes. Mereka gotong royong memperbaiki jalan rusak yang tiap hari dilalui anak-anak ke sekolah. Tidak ada yang ditunjuk jadi “guru”, tidak ada jam pelajaran. Tapi pelajaran yang mereka berikan jauh lebih dalam: tentang kepedulian, kebersamaan, dan pengorbanan.

Kesadaran sosial adalah ruang kelas kedua

Anak-anak kita belajar bukan hanya dari buku. Mereka belajar dari apa yang mereka lihat setiap hari. Ketika mereka melihat orang tuanya memikul batu, mencampur semen di bawah terik matahari, demi membuat jalan sekolah lebih aman, anak itu sedang belajar arti tanggung jawab.

Ketika mereka melihat warga yang awalnya tidak kenal, jadi satu barisan, bergantian mengangkat material, anak itu sedang belajar arti gotong royong. Ketika mereka sadar semua itu dilakukan bukan untuk upah, tapi agar adik kelasnya tidak lagi jatuh ke lubang, anak itu sedang belajar pengorbanan tanpa pamrih.

Inilah “kesadaran sosial” yang sering kita abaikan. Kita sibuk menuntut guru harus kreatif, sekolah harus punya fasilitas lengkap. Tapi lupa, lingkungan sosial yang peduli adalah prasyarat paling dasar. Anak tidak akan fokus belajar kalau tiap pagi harus melewati jalan berlumpur dan khawatir terlambat. Anak tidak akan semangat ke sekolah kalau merasa dirinya dan cita-citanya tidak dianggap penting oleh orang dewasa di sekitarnya.

Jalan fisik, jalan cita-cita

Jalan yang hari ini diperbaiki warga Cibubuay memang hanya beberapa meter aspal dan batu. Tapi maknanya panjang. Jalan itu akan jadi saksi langkah-langkah kecil anak-anak SDN Mekarwinaya. Langkah kaki yang tadinya tertatih karena takut jatuh, besok bisa lebih mantap. Langkah kecil itu, kalau dikumpulkan tiap hari selama 6 tahun SD, akan mengantar mereka ke gerbang SMP, SMA, bahkan perguruan tinggi.

Pendidikan sukses bukan hanya soal nilai ujian. Sukses itu ketika anak berani bermimpi besar karena merasa jalannya sudah diratakan oleh orang-orang di sekitarnya.

Pelajaran untuk kita semua

Pemerintah punya tugas membangun infrastruktur. Guru punya tugas mengajar. Tapi orang tua dan masyarakat punya tugas yang tidak kalah penting: menciptakan ekosistem peduli. Tidak perlu menunggu dana besar atau proyek megah. Kadang cukup cangkul, sekop, dan keputusan untuk turun tangan bersama.

Karena pada akhirnya, anak tidak hanya butuh guru yang hebat di kelas. Mereka butuh “guru kehidupan” di luar kelas. Guru-guru itu adalah kita semua: warga, orang tua, tetangga.

Selama kesadaran sosial ini hidup, maka cita-cita besar anak-anak Indonesia tidak akan terhenti di kubangan jalan rusak. Ia akan terus melaju, sama mulusnya dengan jalan yang kita perbaiki bersama hari ini.

SD Negeri Mekarwinaya, Cibubuay, Jumat 19 Juni 2026.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA
x